Tampilkan postingan dengan label subur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label subur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Agustus 2013

Pisang

“Bulik, ada pisang yang sudah suluh, dua pohon lho !”, seru tetangga saya yang anguk-anguk dari jendela kepada istri saya saat ia berdiri usai sholat Ashar. Ya, kebanyakan rumah-rumah di desa tidak berpagar, jadi gampang saja tetangga lewat dan tiba-tiba kepalanya nongol di jendela. Bikin kaget saja. Mereka biasa melintas kebun saya di belakang rumah, saat berjalan menuju mushola yang berlokasi di depan rumah saya.

Saya sangat senang menebang pisang. Ingat kebiasaan saya saat remaja di sebuah kota kecil di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tanah disana berkapur tidak terlalu subur, namun buah pisangnya ranum, tandannya banyak dan pohonnya tinggi. Urusan menebang pohon pisang selalu dipercayakan kepada saya.

Menebang pisang ada tekniknya, terutama bila pohonnya besar dan tinggi. Selain golok, biasanya saya membawa cangkul. Semua pohon pisang yang berbuah lebat, selalu condong, sehingga bisa diperkirakan kemana robohnya. Kita harus melukai batang pisang pada tempat yang tepat, yakni pada posisi lebih dari separo panjang batang. Mengapa? Agar bila kemudian pisang roboh, buahnya yang sarat masih bisa tergantung, tidak hancur terjerembab ke tanah. Nah, alat untuk melukai batang yang paling tepat adalah cangkul, yang dengan dorannya yang panjang bisa meraih posisi yang kita inginkan.

Melukainya-pun harus tidak boleh terlalu dalam dan tidak pula terlalu dangkal. Harus pas. Bila kemudian batangnya di dorong-dorong atau daun keringnya ditarik kebawah, batang pisang akan tertekuk pelahan-lahan. Bila terlalu dalam, maka batang akan tertekuk terlalu cepat dan bisa menyambar muka kita. Sedangkan bila terlalu dangkal, batang susah tertekuk bahkan bisa roboh pada pangkal pohon, hancurlah pisang kita terbanting ke tanah.


Menebang yang baik adalah bila pokok pisang digoyang-goyang, batang pisang akan tertekuk pelahan dengan lembut, sehingga tangan kiri kita sempat meraihnya dengan aman, menyeret ke samping dan tangan kanan yang menggenggam golok dengan leluasa menebas batang tandannya. Sempurna. Alhamdulillah.

Minggu, 16 Juni 2013

Cangkul Tua



Cangkul adalah peralatan pokok bagi petani. Cangkul itu mungkin serupa gitar bagi pemusik. Kalau sudah cocok, enggan diganti. Pak Tani sepuh ini, sedang mengaso di tembok jembatan sungai kecil, sambil mengawasi sawahnya yang hampir panen. Cangkul tua kesayangannya tampak sudah dicuci bersih menemani dengan setia. Ujungnya sudah boncal-boncel, seperti gigi orang tua. Sisi tajamnya sudah miring, bagian dalam, karena yang menyentuh tanah terlebih dahulu, sudah lebih pendek dari sisi  luarnya.

Doran pacul terbuat dari batang kelapa tua berwarna hitam, tampak masih kuat dan liat. Mengkilat, karena hampir setiap hari di genggam oleh tangan trampil selama puluhan tahun. Batangnya ramping, tidak seperti doran jaman sekarang yang besar terbuat dari kayu mahoni atau kayu nangka yang berat.

Ketika saya tanyakan,
"Kok nggak diganti mbah, sudag gripis gini?",
dia tidak menjawab, tapi sambil tersenyum ditunjuknya cap pembuatnya di pangkal cangkul. Saya perhatikan ada lekuk tulisan pabriknya, mungkin saat ini sudah tidak lagi berproduksi diserbu cangkul import dari China. Pak

Nampaknya semua cangkul hampir sama, padahal setiap daerah memiliki perbedaan. Terutama bila kita melihat kemiringan dari cangkul-cangkul yang dipakai oleh petani di wilayah itu. Cangkul yang masih hampir siku, menandakan ketebalan tanah yang lebih dalam yang diolah oleh cangkul itu. Lapisan tanah subur di daerah itu pasti lebih tebal. Sedangkan cangkul yang kemiringan dengan tangkai dorannya lebih kecil, menandakan bahwa lapisan tanah subur yang di olah tidak seberapa dalam lagi. Nah, tentu kita lebih senang memiliki tanah yang lebih subur.

Berapalah harga sebatang cangkul, toch pak Tani Tua ini enggan menggantinya. Ia begitu bangga dan sayang dengan cangkulnya, seperti pemburu yang sangat menyayangi bedilnya.