Tampilkan postingan dengan label sapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sapi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Januari 2014

Holistic Swimming

Sabtu pagi, akhirnya saya bisa juga mengatasi rasa malas untuk berangkat berolah raga.  Perlengkapan berenang telah disiapkan istri saya, sabun, shampoo, handuk, celana ganti dan kacamata renang. Semua dimasukan kedalam tas dan saya cantolkan di stang sepeda jengki tua, merk Phoenix, buatan China yang saya beli dari tetangga seharga 250 ribu rupiah.

“Ati-ati ya pak”, kata istri saya sambil membukakan pintu depan.
“In sya Allah”, jawab saya sambil bersiap mengayuh sepeda dan
“Assalamu’alaikum”, saya meluncur keluar
“Wa’alaikum salam”, jawab istri saya

Saya kemudian meluncur di jalan kampung  yang mulus. Masih sepi, anak-anak tentu sudah berangkat sekolah. Ibu-ibu masih menyapu halaman atau belanja di warung. Beberapa saat kemudian saya sudah berada di pinggir desa. Menyusuri jalan beraspal, sebelah kanan sungai kecil yang airnya cukup deras, membatasi jalan dengan kebun salak. Sebelah kiri kolam-kolam ikan dengan berbagai jenis ikan. Nila, mujaer, gurame dan ada pula kakap. Mereka berenang-renang kesana kemari membuat saya tersenyum iri.

Kemudian saya menyusuri jalan desa, kiri kanan hamparan sawah hijau, di seling kebun cabai, kacang panjang atau buncis. Beberapa minggu yang lalu lahan ini masih di tanami jagung dan tembakau, seolah bermain sulap, tiba-tiba sudah menjadi sawah. Di pinggir jalan, banyak rumpun pisang, pohon jati, nangka, kelapa atau semak rumput gajah yang subur. Ada kandang sapi jenis Ongole dan dua buah pedati di luarnya.

Setelah menempuh lebih kurang 1.5 km sampailah saya ke kolam renang kecil. Membeli tiket seharga Rp.3.500, harga ticket untuk bukan hari libur. Sobekan ticket saya cemplungkan ke kotak yang disediakan, sambil saya tuliskan nama dan nomor telepon. Sobekan yang lain saya simpan, siapa tahu pada undian bulanan saya bisa memperoleh hadiah, sepeda gunung, tv atau kompor gas.

Meregangkan badan sejenak, stretching pada semua pesendian badan, saya kemudian dengan celana renang mulai membasahi tubuh, mulai dari bagian kaki, betis terus keatas sampai rambut dan saya nyemplung ke air.

Saya tolakan tubuh saya kedepan menuju ke seberang sambil membaca, astaghfirullah, setiap tolakan tangan. Ya Allah, ampunilah dosa hambamu ini. Banyak dosa yang telah hamba lakukan. Ampunilah. Air gunung yang segar bersih dari obat-obatan meluncur keseluruh permukaan tubuh saya, setiap saya meluncur kedepan, semoga Allah mengampuni dan membersihkan tubuh saya dari dosa.

Sampai di tepi kolam segera saya berbalik, Subhanallah …. Setap semburan nafas keair, baik melalui hidung atau mulut saya ucapkan tasbih , Maha Suci Engkau ya Allah. Betapa tidak sempurnanya hambamu. Betapa banyaknya kekuranganku, ya Allah. Betapa agungnya engkau jauh dari kekurangan dan ketidak layakan. Saya lakukan terus sampai kembali ke tepi kolam.

Hari masih sepi. Hanya saya sendiri yang berenang di kola ini. Seolah kolam ini milik saya sendiri. Suasana yang sepi ini makin meningkatkan ke-khusuk-an saya berenang sambil memuji asma-Nya.

Sampai ke tepi, lagi saya berbalik sambil mengucapkan, Alhamdulillah…, segala puji bagimu ya Allah. Banyak sekali nikmat yang telah Kau limpahkan kepada hambamu ini …. tak terkira banyaknya. Tetap sayangilah hamba ya Allah. Setiap tolakan tangan saya bersyukur, sambil mengingat semua nikmat Allah, rasanya saya masih kurang membalas dengan ibadah kepada Mu. Alhamdulillah … hup …. Alhamdulillah …

Kembali sampai ke tepi, saya segera berbalik dan mengucapkan La illaha illa Allah… setiap tolakan saya berdoa, semoga sampai ajal menjemput nanti, tidak ada yang menggeser keyakinan saya bahwa Engkaulah dan hanya Engkaulah yang patut saya sembah. Kau ajarkan keyakinan ini sejak Kau ciptakan manusia pertama Adam dan semoga tetap diikuti umatMu sampai akhir zaman. Lindungilah hambamu ini dari dosa sirik, dosa terbesar. …. La illaha illa Allah ….

Tidak terasa, sampailah saya ke tepi kembali dan segera setelah berbalik saya ucapkan, Allahu Akbar. Setiap hentakan tangan dan kaki meluncur dari mulut saya ucapan Takbir, menyembur bersama semburan gelembung-gelembung nafas saya. Engkau Maha Besar, semua milik-Mu. Semua, mutlak milik-Mu. Bahkan tubuh yang sedang berolah-raga inipun, bila kau tetapka sakit, hamba tidak kuasa menolaknya. Ya, Allah Maha besar Engkau. Allahu Akbar

Sampai ke ujung tepi kolam, saya berarti telah berenang tidak berhenti lima kali bolak-balik. Saya tetap berbalik dan kembali saya ber-zikir dari awal … Astaghfirullah. Hitungan demi hitungan saya terus berenang, tasbih, tahmid, takbir …. Tak terasa 10 kali berenang bolak-balik, 20 kali, 30 kali dan 40 kali. Saya menyudahi dalam hitungan ke 42 kali, target pagi ini.

Sampai saya selesai berenang sekitar 40 menit, berarti saya sudah lebih dari 600 meter berenang non-stop. Lumayan lah untuk usia balak enam, memang tidak sebagus performa saya saat muda, top-topnya.

Saya naik ke permukaan. Kolam masih sepi. Belum ada perenang lain yang datang. Saya kemudian mandi membersihkan badan dari ujung rambut sampai telapak kaki. Badan bersih, tubuh segar dan hati-pun lapang. Semoga gerakan raga dan getaran hatiku, seirama selalu mengingat-Mu, ya Allah. Saya kembali mengayuh sepedah pulang. Jalan sekarang sedikit menanjak.


Selamat pagi. Wassalamu’alaikum. 

Kamis, 22 Agustus 2013

Sapi dan Sawah

Sapi dan sawah bersahabat akrab di desa. Sapi banyak mendapatkan makanan dari sawah. Rumput gajah yang menyemak sengaja ditanam di pematang sawah, sementara sawah membutuhkan sapi untuk menarik bajak melumatkan tanahnya. Jerami padi menjadi tempat yang hangat di kandang, terkadang masih tersisa batang padi yang lunak yang bisa dikunyah oleh sapi, yang memang doyan mengunyah. Sementara kotoran sapi adalah makanan segar bagi sawah. Pupuk kandang adalah pupuk favorit bagi petani, menyehatkan tanah tanpa mengganggu lingkungan. Memang sapi dan sawah saling membutuhkan.

Traktor tangan memang mulai menjadi pemandangan yang biasa di sawah-sawah, namun bajak yang ditarik dua ekor sapi masih cukup banyak dijumpai di desa. Lebih lamban memang, namun tanah makin dalam di injak sapi dan diangkat keatas oleh bajak. Sapi-sapi ini dengan mantap melangkah kaki  terbenam ke dalam lumpur. Bagi sapi, tampaknya mereka melakukan dengan senang, dari pada hanya berdiam diri di dalam kandang. Rekreasi sambil melatih otot-ototnya.


Anehnya, setiap sapi membajak, selalu ada beberapa ekor burung kuntul (bangau) yang berterbangan mengikuti kemanapun langkah sapi membajak. Tanah lembut yang baru saja dibalik, menyediakan cacing atau hewan tanah yang melimpah, hewan kecil ini belum sempat lari bersembunyi, paruh bangau yang panjang dengan sigap telah melahapnya. Hup, cacing masuk ke tenggorokan burung dengan sekali telan. Bila nasib baik, bukan hanya cacing kecil, tapi se-ekor belut yang gemuk cukup untuk oleh-oleh anak-anak burung yang menunggu mama pulang kembali ke sarangnya.

Senin, 19 Agustus 2013

Jamu


Saya tidak tahu namanya, tapi saya panggil Simbah saja. Saya bertemu Simbah saat lari pagi di lapangan desa. Lapangan ini milik desa, letaknya juga di belakang Kantor Desa. Lapangannya kurang terpelihara, memang mungkin tidak ada anggaran untuk pemeliharaan desa.

Rumput dan semak yang kadang-kadang tinggi, cukup diserahkan ke tukang ngarit, ya rajin menyabit rumput buat pakan ternaknya. Pernah saya melihat kawanan kambing dengan bebas berkeliaran makan rumput di lapangan ini. Kadang-kadang saya lihat beberapa ekor sapi sengaja di tambatkan disana dan dengan lahap menyantap rumput yang gratis. Tletong (kotoran) nya tentu saja bertebaran dimana-mana. Lapangan ini memang serba guna, bisa untuk main sepak bola, dipakai pelajaran olah raga oleh SD-SD dan SLB di sekitar desa dan tentu saja ideal untuk menjemur hasil panen, padi, tembakau, belajar motor  atau apa saja.

Kembali ke Simbah, yang dengan rajin menjemur daun bahan jamu. Setiap saat dibalik-baliknya dedaunan itu agar keringnya merata. Daun ini tumbuh merapat ketanah dan sengaja ditanam di halaman rumahnya yang tidak lebar. Ia panen setiap minggu dan biasa menggunakan lapangan ini untuk menjemur bahan jamunya. Simbah sudah melakukannya bertahun-tahun. Sebuah toko obat di pasar Kecamatan, siap menampung hasil panen SImbah, biasanya ia membawa pulang uang sekitar Rp.35.000,- setiap hasil panenan.

Ya lumayan yam Bah, selain sehat, mbah masih punya kesibukan yang menghasilkan. Mudah-mudahan, walaupun hasilnya tidak banyak tapi barokah. Semoga banyak orang sakit yang tersembuhkan ya mBah.



Kamis, 15 Agustus 2013

Menggiling Padi

Pada musim panen seperti saat ini, jasa penggilingan padi laris manis. Mereka menjemput bola keliling desa. Jalan-jalan desa yang mulus, memungkinkan mereka dengan mudah datang ke halaman petani yang membutuhkan dan menggiling bulir padi menjadi beras, termasuk memutihkan (menyosoh) beras sehingga tampak lebih putih dan menggiurkan. Saat beroperasi, suaranya yang khas, terus menerus tidak terputus, bagi pemilik padi tentu suara yang paling merdu yang selalu ingin mereka dengarkan. Debu? Jangan kuatir, debu sangat dimimalkan dengan memasang kantong karung plastic, di mulut pembuangan.

Orang desa yang kreatif, kadang-kadang mampu memodifikasi mesin penggiling padi ini bisa dipakai juga untuk menggerakan roda kendaraan yang membawanya sehingga bisa memangkas biaya pembelian kendaraan. Kendaraan yang sederhana mereka rakit sendiri, ala kadarnya yang penting ada kemudi, rem dan gas. Kendaraan semacam ini tentu tidak memerlukan plat nomor, STNK maupun kir, memang hanya mutar muter di dalam desa saja.


Biaya menggiling padi ini bisa gratis. Lha kok bisa? Ya, asalkan limbah bekatul yang sangat berharga boleh mereka bawa pulang, bekatul. Bekatul adalah bulir sisa penggilingan beras yang memiliki gizi dan serat yang sangat tinggi dan bernilai jual yang tinggi. Bukan saja sapi, kita pun Insya Allah akan selalu sehat bila rajin mengkonsumsi bekatul. Cobalah.

Selasa, 13 Agustus 2013

Pemandangan

Mungkin jarang orang desa yang sadar bahwa mereka sehari-hari menikmati barang mahal yang gratis, yakni pemandangan. Pemandangan bagi bagi orang kota adalah hal yang mahal. Mereka harus meluangkan waktu untuk cuti dari kantor dan merogoh kantong ratusan ribu bahkan jutaan rupiah untuk memperoleh pemandangan yang indah.

Di negeri lain, hamparan sawah menghijau, air sungai yang gemericik mengalir, serta langkah kaki sapi yang menarik bajak
kedalam lumpur menjadi komoditas pariwisata yang laris. Turis asing bebondong-bondong datang ke desa, hidup bersama petani, menanam padi, membajak sawah atau memandikan kerbau disungai. Suatu pengalaman yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan dalam kehidupan kota yang super sibuk.


Gunung berapi, misalnya. Ternyata mampu menarik wisatawan untuk menengok sisa-sisa letusan, mengambil bahaya untuk mendaki dan memotret kawahnya. Padahal saya setiap hari bisa menikmati  dan bersyukur dapat melihat bentuknya yang berubah-ubah tergantung dari sisi mana kita memandangnya. Gratis tentunya.

Sabtu, 15 Juni 2013

Pedati

Saya tidak tahu, apakah kendaraan desa semacam ini masih boleh disebut pedati? Kuda atau sapi tidak lagi menarik beban, melainkan sepeda motor. Cukup ujungnya di kaitkan ke bagian belakang sepeda motor dan meluncurlah pedati ini di jalan-jalan desa.

Sebagai pengangkut hasil pertanian, rumput pakan ternak, bibit atau pupuk, pedati ini memang sangat praktis dan menjadi sahabat pak Tani.

Tentu saja pak Tani tidak berani menarik pedatinya di jalan raya, bisa-bisa berurusan dengan pak Polisi, tapi di jalanan desa, kendaraan yang tidak pernah di "kir" ini bebas bersliweran.

Tentu saja prasyarat utama adalah kondisi jalan. Untungnya jalanan di desa saya mulus dan datar. Kantor PU rajin memelihara jalan, setiap lubang segera di tambal dan mereka membangun pilar-pilar jembatan yang tinggi guna memelihara permukaan jalan yang rata tidak naik turun mengikuti kontur tanah di lokasi.

Pedati-pedati itu harus berterima kasih kepada jalan-jalan yang mulus, rata dan nyaman untuk dilewati.